Kisah Ashabul Kahfi dalam al Quran: kajian semiotika

This item is published by Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Wasik, Moh. Ali (2016) Kisah Ashabul Kahfi dalam al Quran: kajian semiotika. Masters thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

[img] Text
Moh. Ali Wasik_F05212092 ok.pdf

Download (22MB)

Abstract

Dalam ranah kajian semiotika, model pembacaan sebuah teks karya sastra dapat dilakukan melalui dua tahapan pembacaan, yaitu pembacaan heuristik dan pembacaan retroaktif. Pembacaan heuristik adalah pembacaan berdasarkan konvensi bahasa, atau berdasarkan konvensi sistem semiotik tingkat pertama. Analisis terhadap aspek linguistik ini penting untuk mencari makna semiotik tingkat pertama. Pada tahap ini, analisis linguistik sangat ditekankan, seperti: morfologi, sintaksis, maupun semantik. Ketiga unit ini merupakan tiga di antara empat elemen dasar linguistik. Adapun pembacaan berikutnya sebagai kelanjutan dari pembacaan pertama, yaitu pembacaan retroaktif atau hermeneutik, yaitu pembacaan berdasarkan sistem semiotik tingkat kedua, atau berdasarkan konvensi di atas konvensi bahasa. Konvensi-konvensi ini meliputi: hubungan internal teks al-Qur’an, intertekstualitas, asbab al-nuzul, latar belakang historis, maupun perangkat studi ‘ulum al-Qur’an yang lain. Melalui elaborasi dan analisis terhadap kisah Ashabul Kahfi yang menggunakan pisau analisis semiotika, penelitian ini menyimpulkan bahwa dalam kisah tersebut ditemukan banyak aspek-aspek semiotik, salah-satunya yaitu di antaranya terdapat dalam Klausa idh awa al-fityatu ila al-Kahfi faqalu rabbana atina min ladunka rahmatan wa hayyi’ lana min amrina rashada. Klausa ini apabila menggunakan media pembacaan secara heuristik merupakan pernyataan bahwa yang lari ke dalam gua adalah pemuda yang selalu mengharap rahmat dari Allah swt. Berbeda dengan pembacaan heuristik, pembacaan secara retroaktif menunjukkan tentang profil para pemuda Ashabul Kahfi sebagai tipe seorang sekumpulan pemuda yang teguh pendirian, kokoh dalam memegang prinsip dan selalu konsisten dalam keimanannya. Demikian pula yang terdapat dalam klausa sayaquluna thalathatun rabi’uhum kalbuhum wa yaquluna khamsatun sadisuhum kalbuhum rajman bi al-ghaibi wa yaquluna sab’atun wa thaminuhum kalbuhum sebagai gambaran jumlah mereka. Klausa ini merupakan penanda (signifiant) yang mengacu pada jumlah para pemuda, sedangkan unsur petandanya (siginifie) mengacu pada beberapa perbedaan tentang jumlah para pemuda tersebut.

Statistic

Downloads from over the past year. Other digital versions may also be available to download e.g. from the publisher's website.

Item Type: Thesis (Masters)
Creators:
CreatorsEmailNIM
Wasik, Moh. Alialiamt.ganteng@gmail.comF05212092
Contributors:
ContributionNameEmailNIDN
Thesis advisorNasir, M. RidlwanUNSPECIFIED2017085003
Subjects: Cerita dalam Al Qur'an
Tafsir > Tafsir Al Qur'an
Keywords: Kisah; Ashabul Kahfi; semiotika
Divisions: Program Magister > Ilmu Alquran dan Tafsir
Depositing User: WASIK MOH. ALI
Date Deposited: 26 May 2017 06:41
Last Modified: 06 Mar 2024 06:21
URI: http://digilib.uinsa.ac.id/id/eprint/17045

Actions (login required)

View Item View Item