This item is published by Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Lirizki, Riza (2018) Pembangunan budaya organisasi Komunitas Pelajar Tanpa Pacaran (PTP) Surabaya. Masters thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.
Text
Riza Lirizki_F02916200.pdf Download (888kB) |
Abstract
Komunitas Pelajar Tanpa Pacaran (PTP) Surabaya adalah komunitas dakwah yang bertujuan untuk menyadarkan para remaja khususnya para pelajar agar menghindari perilaku berpacaran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis proses pembangunan budaya organisasi yang meliputi proses penciptaan dan pemertahaan budaya organisasi antipacaran serta untuk mengetahui dan menganalisis faktor pendukung dan faktor penghambatnya. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Pengambilan data dilakukan melalui proses wawancara dan observasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa proses penciptaan budaya organisasi antipacaran pada Komunitas PTP yang ditujukan untuk anggota baru dilakukan dengan beberapa tahapan. Tahapan pertama dengan melakukan seleksi anggota baru dengan menetapkan komitmen untuk tidak berpacaran sebagai kriteria seleksi. Kemudian dilanjutkan dengan tahapan tindakan manajemen puncak dan sosialisasi budaya. Para pendiri berusaha memberikan keteladanan pada para anggota baru serta memberikan penyikapan yang lebih bersifat membangun kesadaran bagi para angota baru. Sosialisasi budaya pada para anggota baru dilakukan melalui cara formal dan informal. Cara formal dilakukan melalui kajian, konseling personal dan aksi orasi, sedangkan cara informal dilakukan melalui komunikasi yang dilakukan lewat media sosial dan kopdar (berkumpul). Proses pemertahanan budaya organisasi ditujukan untuk para anggota lama dan pengurus. Tahapan yang dilakukan untuk mempertahankan budaya organisasi hampir sama dengan proses penciptaan budaya organisasi namun memiliki kadar dan tujuan yang berbeda. Dalam hal seleksi pengurus, Komunitas PTP menetapkan tidak berpacaran, berpenampilan syar’i dan memiliki pengalaman berorganisasi sebagai kriteria untuk bisa menjadi pengurus. Tindakan manajemen puncak diterapkan dalam bentuk keteladanan yang ditunjukkan para pendiri pada anggota lama dan pengurus serta membuat aturan dan sanksi yang lebih tegas bagi para anggota lama dan pengurus. Sosialisasi budaya organisasi tetap dilakukan dengan tujuan agar para anggota lama dan pengurus bisa menerapkan dan ikut serta menyampaikan nilai antipacaran. Faktor yang menghambat proses penciptaan dan pemertahanan budaya organisasi pada Komunitas PTP adalah faktor karakter anggota yang mayoritas pelajar sehingga masih mudah labil, lingkungan pergaulan dan masyarakat serta pengaruh media sosial. Sedangkan faktor pendukung proses penciptaan dan pemertahanan budaya organisasi pada Komunitas PTP adalah faktor tingginya komitmen para anggota khususnya para pengurus dalam membangun budaya organisasi, dukungan pihak sekolah, pihak MUI Kota Surabaya dan pihak Pemerintah Kota Surabaya.
Statistic
Downloads from over the past year. Other digital versions may also be available to download e.g. from the publisher's website.
Item Type: | Thesis (Masters) | ||||||
---|---|---|---|---|---|---|---|
Creators: |
|
||||||
Subjects: | Budaya Organisasi Manajemen Dakwah |
||||||
Keywords: | Komunitas Pelajar Tanpa Pacaran (PTP); budaya organisasi; antipacaran | ||||||
Divisions: | Program Magister > Dirasah Islamiyah | ||||||
Depositing User: | Lirizki Riza | ||||||
Date Deposited: | 01 Aug 2018 02:35 | ||||||
Last Modified: | 01 Aug 2018 02:35 | ||||||
URI: | http://digilib.uinsa.ac.id/id/eprint/25710 |
Actions (login required)
View Item |