Shatahat Abu Yazid al-Bistami dalam Perspektif Ilmu Hudhuri

This item is published by Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Bariroh, Hurril (2018) Shatahat Abu Yazid al-Bistami dalam Perspektif Ilmu Hudhuri. Undergraduate thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

[img] Text
Hurril Bariroh _ E81214060.pdf

Download (2MB)

Abstract

Shatahat merupakan salah satu bagian dari kajian tasawuf yang tidak habis diperbincangkan mulai zaman klasik sampai hari ini. Shatahat adalah ungkapan-ungkapan yang diucapkan oleh seorang sufi dalam keadaan al-fana’. Perbedaan pandangan kaum sufi terhadap ucapan Shatahat umumnya dibagi menjadi dua, ada yang menganggap bahwa ucapan tersebut ganjil dan adapula yang menerima dengan mempertimbangkan penyebab ucapan-ucapan itu muncul. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang datanya bersumber dari kepustakaan (library research). Dengan menggunakan teori Ilmu Hudhuri karya Mehdi Ha’iri Yazdi sebagai terobosan untuk mengetahui bahwa bentuk Shatahat Abu Yazid al-Bist}ami tidak terjebak pada bahasa mistik. Dalam penafsiran ini menggunakan teori Ilmu Hudhuri dan penyatuan individu melalui emanasi dan penyerapan. Menurut Mehdi Ha’iri Yazdi, Ilmu Hudhuri juga disebut dengan ilmu laduni, yaitu ilmu yang diperoleh dengan “menghadirkan diri”. Menurut Abu Yazid, keadaan atau ucapan seorang yang mengalami Shatahat merupakan perbuatan Tuhan. Suasana yang dialaminya menunjukkan bahwa pada saat tersebut Tuhan mendominasi dirinya, sehingga tidak bisa mengendalikan perbuatan atau perkataannya. Semua yang dilakukan berada di luar kesadarannya. Saat seorang sufi mengalami shatahat, bukan manusia yang melebur ke dalam Tuhan, akan tetapi Tuhan lah yang masuk kedalam qalb manusia. Penyatuan ini bisa dipahami melalui Ilmu Hudhuri yang disebut peniadaan atau penyerapan. Fenomena Shatahat Abu Yazid al-Bist}ami dalam perspektif Ilmu Hudhuri Mehdi Ha’iri Yazdi dapat dipilah dalam tiga kondisi. Pertama, sebagai sebuah kondisi mistik yang merupakan sebuah penyatuan. Kedua, Shatahat sebagai bahasa mistik. Dan yang ketiga, Metamistik. Bahwa dari mistik dan bahasa mistik disebutkan bahwa Abu Yazid mengalami fase metamistik yang dimulai dari سَكَر (mabuk) laluزَوَالُ الحِجَاب (tersingkapnya hijab) kemudian غَلَبَةُ الشُّهُود (perkesempurnaan kesaksian). Dari sini terlihat bahwa ia hanya menyaksikan dirinya, menyadari dirinya tanpa yang lain sehingga dia berkata “aku”.

Statistic

Downloads from over the past year. Other digital versions may also be available to download e.g. from the publisher's website.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Creators:
CreatorsEmailNIM
Bariroh, Hurrilhrrlbariroh@gmail.comUNSPECIFIED
Subjects: Tasawuf
Keywords: Abu Yazid al-Bistami, Shatahat, Ilmu Hudhuri, Mehdi Ha’iri Yazdi, Mistik.
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Filsafat > Aqidah Filsafat Islam
Depositing User: Bariroh Hurril
Date Deposited: 10 Aug 2018 08:49
Last Modified: 10 Aug 2018 08:49
URI: http://digilib.uinsa.ac.id/id/eprint/26980

Actions (login required)

View Item View Item