Qiyās burhāni dalam penafsiran al-Qur`an (studi kitab tafsir Fahm al-Qur`an al-Ḥakīm: al-Tafsīr al-Wāḍiḥ Hasba Tartīb al-Nuzūl karya M. ‘Ābid al-Jābirī)

This item is published by Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Hukmiyah, Ulul (2019) Qiyās burhāni dalam penafsiran al-Qur`an (studi kitab tafsir Fahm al-Qur`an al-Ḥakīm: al-Tafsīr al-Wāḍiḥ Hasba Tartīb al-Nuzūl karya M. ‘Ābid al-Jābirī). Masters thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

[img] Text
Ulul Hukmiyah_F02516123.pdf

Download (8MB)

Abstract

Gagasan filosofis dan epistimologi Muhammad ‘Ābid al-Jābirī memerangi “irrasionalisme” dan percaya bahwa rasionalitas serta saintifik ilmiyah dengan ajaran Islam tidaklah bertentangan. Pemikiran ini lahir karena peradaban al-Jābirī hidup diantara kemrosotan Islam Timur dengan kemajuan Kristen Barat. Kemudian ia menganalisis tiga model epistimologi nalar Arab (qiyās bayāni, qiyās burhāni dan qiyās ‘irfāni). Ia mengkritik qiyās bayāni dan qiyās ‘irfāni dan menggagas episteme qiyās burhāni sebagai teori yang bisa membaca dan memenuhi tujuan tersebut. Pemikiran Muhammad ‘Ābid al-Jābirī ini kemudian dituangkannya untuk menafsirka ayat-ayat al-Qur`an dengan metode nuzuly, disebutnya dengan nama Fahm al-Qur`an al-Ḥakīm: al-Tafsīr al-Wāḍiḥ Hasba Tartīb al-Nuzūl. Tertarik dengan model pembacaan al-Jābirī atas al-Qur`an, tulisan ini berusaha mengkaji konsistensi kritik al-Jābirī atas qiyās bayāni dan qiyās ‘irfāni serta gagasannya qiyās burhāni dan aplikasinya. Untuk menganalisis teori ini dalam penafsiran al-Jābirī penulis menggunakan metode kepustakaan dengan mengumpulkan buku karya al-Jābirī serta data dan dokumen yang telah terdokumentasi, kemudian dijelaskan dengan metode deskriptif-analisis. Penelitian ini menghasilkan dua kesimpulan: Pertama, al-Jābirī konsisten dengan kritiknya atas qiyās bayāni dan qiyās ‘irfāni serta gagasannya qiyās burhāni yaitu sebuah teori yang mencoba meminimalisir keberpihakan seorang mujtahid dalam proses penalaran sehingga hasil dari proses teori qiyās tetap konsisten dengan prinsip kausalitas tanpa batas. Kedua, konsep dan aplikasinya dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur`an yaitu kritik ‘illat dalam qiyās bayāni digantikannya dengan hikmaḥ sebagai bentuk gagasan teori qiyās burhāni (maslahah mursalah) yang lebih mengutamakan maqāsid al-shair’ah. Seperti hukum keharaman khamr bisa lebih ditegaskan dengan argumen merusak akal atau membahayakan nyawa seseorang daripada hanya karena sifat memabukkan. Sedangkan untuk qiyās ‘irfāni, menurut al-Jābirī Tuhan tidak patut dianalogikakan, sifat Tuhan adalah qadim dan berbeda dengan segala sesuatu. Semua pembahasan teologi yang diperdebatkan ulama adalah tidak lain mengenai masalah politik-ideologi manusia yang tidak ada kaitannya dengan Tuhan (Allah). Karena gagasan dan hasil dari penerapan teori al-Jābirī ini, dia justru banyak mendapat kritikan dan pujian disisi lain.

Statistic

Downloads from over the past year. Other digital versions may also be available to download e.g. from the publisher's website.

Item Type: Thesis (Masters)
Creators:
CreatorsEmailNIM
Hukmiyah, Ululululdgirl1@gmail.comUNSPECIFIED
Subjects: Al Qur'an > Asbabun Nuzul
Al Qur'an
Tafsir
Keywords: Qiyas Burhani; M. ‘Abid al-Jabiri; Fahm al-Qur`an al-Ḥakim
Divisions: Program Magister > Ilmu Alquran dan Tafsir
Depositing User: Hukmiyah Ulul
Date Deposited: 18 Feb 2019 04:21
Last Modified: 18 Feb 2019 04:21
URI: http://digilib.uinsa.ac.id/id/eprint/30278

Actions (login required)

View Item View Item