Sulh dalam nushuz suami: kajian terhadap tafsir al-munir wahbah zuhaili surat an-nisa [4] : 128-130

This item is published by Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Luthfiyyah, Aini (2020) Sulh dalam nushuz suami: kajian terhadap tafsir al-munir wahbah zuhaili surat an-nisa [4] : 128-130. Undergraduate thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

[img] Text
Aini Luthfiyyah_E93216100.pdf

Download (1MB)

Abstract

Penelitian ini didasari dengan banyaknya perselisihan yang terjadi pada zaman sekarang, salah satunya adalah konflik pada hubungan suami dan istri.Perselisihan yang terjadi biasanya ada di awal-awal pernikahan. Salah satunya adalah nushuz. Nushuz merupakan salah satu perselisihan yang sering terjadi antara suami istri yang disebabkan oleh beberapa hal. Selain itu nushuz juga bisa datang dari suami maupun istri. Dan nushuz yang disebabkan oleh suami itu dikarenakan sang istri sudah tua dan jelek, sudah bosan, atau bahkan terpikat perempuan lain dengan tanda-tanda kemunculan. Tidak memberikan nafkah sebagaimana mestinya, tidak menggauli dengan kasih dan sayang, dan karena jeleknya akhlak sang suami. Dan ketika si istri melihat kemunculan tanda-tanda tersebut secara nyata maka diperbolehkan untuk si istri melakukan Sulh. Salah satu mufassir yang membahas mengenai Sulh ini adalah Wahbah Zuhaili pada tafsirnya yang berjudul Al-Munir dan salah satu ayat terdapat pada surat An-Nisa’ ayat 128-130. Ada tiga konsep Sulh yang telah dikemukakan oleh Wahbah Zuhaili pada tafsirnya Al-Munir. Pertama, si istri boleh menggugurkan setengah haknya yang menjadi kewajiban suaminya. Dengan tujuan mengambil hati sang suami dan suami harus menerimanya. Kedua, melakukan kesepakatan perdamaian antara keduanya dengan cara si istri rela melepaskan sebagian haknya istri pada suami. Karena perdamaian lebih disenangi Allah daripada bercerai. Ketiga, ketika suami istri sudah sulit untuk memperbaiki hubungan merekabahkan sudah tidak bisa dipaksakan untuk kembali. Maka diperbolehkan untuk bercerai bagi keduanya dan Allah akan memberikan kecukupan bagi mereka dengan memberikan pasangan pengganti yang lebih baik lagi dan menentramkan hati. Penelitian ini termasuk model penelitian kualitatif dengan jenis penelitian Library research. Dari hasil penelitian bahwa konsep yang telah dikemukakan oleh Wahbah Zuhaili ini cocok untuk dijadikan salah satu cara untuk menyelesaikan sengketa yang ada. Karena Wahbah Zuhaili mentafsirkan ayat ini sesuai dengan kondisi sekarang. Jika, dikaitkan atau disamakan dengan zaman sekarang bisa di sebut seperti proses perceraian dengan melalui perantara pengadilan. Dan sebaiknya dalam sengketa suami istri diusahakan berdamai jika memang masih bisa untuk berdamai. Karena, sesungguhnya bercerai adalah hal yang sangat dimurkai Allah meskipun itu dihalalkan dan berdamai adalah hal sangat lebih baik daripada bercerai.

Statistic

Downloads from over the past year. Other digital versions may also be available to download e.g. from the publisher's website.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Creators:
CreatorsEmailNIM
Luthfiyyah, Ainiainiluthfiyyah98@gmail.comE93216100
Contributors:
ContributionNameEmailNIDN
Thesis advisorIffah, Iffahivamuzammil@yahoo.co.id2013076901
Thesis advisorIchwayudi, Budib.ichwayudi@uinsby.ac.id2016047602
Subjects: Perkawinan
Keywords: Sulh; Nushuz Suami; Wahbah Zuhaili; Tafsir Al-Munir.
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Filsafat > Ilmu Alquran dan Tafsir
Depositing User: Aini Luthfiyyah
Date Deposited: 26 Nov 2020 06:04
Last Modified: 26 Nov 2020 06:04
URI: http://digilib.uinsa.ac.id/id/eprint/45240

Actions (login required)

View Item View Item