Satire dalam Falsafah Jawa dan Islam "studi semiotika tentang ungkapan nduwe wong njero”

This item is published by Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Aziz, Ahmad Amirudin (2021) Satire dalam Falsafah Jawa dan Islam "studi semiotika tentang ungkapan nduwe wong njero”. Masters thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

[img] Text
Ahmad Amirudin Aziz_F02118033.pdf

Download (3MB)

Abstract

Satire merupakan gaya bahasa yang digunakan untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan, atau seseorang yang keluar dari norma tertentu. Satire tidak selalu berbentuk ungkapan, melainkan juga bisa berbentuk tulisan, yang tujuan utamanya tidak hanya sindiran. Akan tetapi juga digunakan untuk memberi informasi dan membuat orang berpikir terkait fenomena sosial yang sedang terjadi. Dalam memahami sebuah sistem tanda pada ungkapan satire nduwe wong njero yang masif digunakan oleh kalangan masyarakat Jawa dan bahkan Indonesia. Peneliti menggunakan pendekatan kebahasaan (linguistik) untuk melihat terkait struktur kebahasaan dalam ungkapan tersebut. Serta menggunakan pendekatan semiotika Semiotika Charles Sanders Peirce, untuk mengetahui makna yang terkandung di dalamnya. Penelitian deskriptif kualitatif ini menggunakan model riset kepustakaan (Library Research). Seluruh data dalam penelitian ini bersumber dari buku-buku terkait dengan satire dan budaya Jawa. Serta ditambah dengan literatur di diberbagai media online berupa jurnal, berita, artikel, opini, poster, meme yang berkaitan dengan fenomena satire tersebut. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa ungkapan nduwe wong njero merupakan jenis satire atau pasemon yang tergolong lembut penuh tawa (horatian). Ungkapan satire nduwe wong njero ini menggunakan bahasa Jawa ngoko (kasar), yang termasuk kedalam jenis ukara ora ganep (kalimat tidak lengkap). Dalam pandangan Triadic dan trikotomi pierce menunjukan bahawa ungkapan ini merupakan bentuk kritikan bernada sindiran yang digunakan untuk meyoroti praktik-praktik KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) di Indonesia khususnya Jawa. Dengan bentuk polarisasinya berupa pemakaian jasa berupa kekuatan “orang dalam”, seperti keluarga, saudara, rekanan dan teman yang memiliki kedudukan, kekuasaan, jabatan, serta kesempatan untuk kemudian melakukan transaksi eksklusif dengan tujuan saling menguntukan antara kedua belah pihak. Serta pandang dan pembacaan falsafah Jawa dan etika Islam. Menunjukan bahwa ungkapan ini termasuk kebiasan yang sudah lazim terjadi di Jawa. Sedangkan menurut pandangan Islam, satire atau pasemon ini tidak bertentangan secara hukum.

Statistic

Downloads from over the past year. Other digital versions may also be available to download e.g. from the publisher's website.

Item Type: Thesis (Masters)
Creators:
CreatorsEmailNIM
Aziz, Ahmad Amirudinkajiamirudin@gmail.comF02118033
Contributors:
ContributionNameEmailNIDN
Thesis advisorSaad, Mukhlisinmukhlisin.saad@yahoo.com2028096101
Thesis advisorNurhayati, Aniekaniekn@gmail.com2007096902
Subjects: Dakwah > Semiotika
Filsafat > Filsafat Islam
Budaya
Keywords: Satire; Semiotika; Falsafah Jawa; Etika Islam.
Divisions: Program Magister > Filsafat Agama
Depositing User: Aziz Ahmad Amirudin
Date Deposited: 26 Dec 2021 12:56
Last Modified: 26 Dec 2021 12:56
URI: http://digilib.uinsa.ac.id/id/eprint/51392

Actions (login required)

View Item View Item