Pemikiran Imamah Habib Husein Al-Habshi (1921-1994)

This item is published by Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Fadil, Fadil (2011) Pemikiran Imamah Habib Husein Al-Habshi (1921-1994). Undergraduate thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

[img] Text
Fadil_F0150307 OK.pdf

Download (2MB)
[img] Text
Fadil_F0150307 Full.pdf
Restricted to Repository staff only until 26 February 2027.

Download (2MB)

Abstract

Penelitian ini termasuk dalam klasifikasi studi perpustakaan (library study). Namun karena penelitian ini terkait dengan pemikiran seorang tokoh dalam waktu tertentu di masa yang lalu, secara metodologis juga menggunakan pendekatan sejarah (historical approach), sebab salah satu jenis penelitian sejarah itu adalah penelitian biografis, yaitu penelitian terhadap kehidupan seseorang dalam hubungannya dengan masyarakat, sifat, watak, pengaruh pemikiran dan idenya, serta pembentukan watak tokoh tersebut.Temuan penelitian ini adalah: Pertama, Habib Husein al-Habshi (1921-1994) dikategorikan sebagai tokoh yang mengalami dinamika dalam pemikirannya,. yang penulis bagi menjadi empat fase: Tradisionalisme, Perjuangan Politik, Fundamentalisme dan Pluralisme Madhhab. Pada fase yang terakhir ini, H{abib Husein al-Habshi tertarik terhadap Revolusi Islam Iran (1979) yang dipimpim oleh Ayatullah Khomaini, sebuah revolusi yang sangat monumental dan pengaruhnya menyebar ke hampir seluruh penjuru dunia, terutama negara-negara Muslim. Fenomena itulah yang mula-mula mendorong al-Habshi untuk mempelajari Shi’ah, yang pada awalnya ia hanya mengagumi perjuangan masyarakat Muslim Shi’ah, bukan madhhab atau akidahnya. Namun, karena kegigihan pihak-pihak tertentu yang berusaha memojokkan Shi’ah bahkan mengkafirkannya, membuatnya terenyuh, sedih dan pada akhimya mempelajari Shi’ah secara mendalam. Dari situlah, kemudian ia berusaha menangkis serangan-serangan tersebut tidak hanya lewat lisan, tetapi juga lewat tulisan. Kedua, dalam mensosialisasikan pemikirannya, Habib Husein al-Habshi menggunakan pendekatan: ukhuwah Islamiyah, moderat dan non sektarian (lintas madhhab), ahl al-sunnah wa-al-jama’ah dan ahl al-bayt. Ketiga, Pemikiran Imamah Habib Husein al-Habshi, tidak berbeda dengan Shi’ah Ithna ‘Ashariyah, yang banyak berkembang di Iran. Ia mengungkapkan bahwa ‘Ali ibn Abi Talib dan 11 keturunannya adalah imam-imam atau pemimpin umat setelah Nabi Muhammad saw.. Dalam memperkuat pendapatnya, ia mengajukan berbagai argumen, baik argumen naqliyah (nas) maupun ‘aqliyah (rasional). Yang menarik adalah pemikiran ini dikemukakan oleh tokoh yang berlatar belakang Sunni.Mencermati biografi dan dinamika pemikiran Habib Husein al-Habshi, situasi aliran pemikiran dan keagamaan yang mengitarinya serta pendekatan yang dilakukan dalam mensosialisasikan pemikirannnya, penulis mengkategorikannya sebagai “Shi’ah Empatik-Partisipatif”, yaitu disamping sebagai tokoh yang mempuyai empati, juga melakukan pembelaan terhadap Shi’ah yang ia sebut dengan madhhab ahl al-bayt.

Statistic

Downloads from over the past year. Other digital versions may also be available to download e.g. from the publisher's website.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Creators:
CreatorsEmailNIM
Fadil, Fadilfadilsj65@gmail.comF0150307
Contributors:
ContributionNameEmailNIDN
Thesis advisorNasir, Ridlwanm.ridlwannasir@gmail.com2017085003
Thesis advisorArifin, Zainul Arifin--2021035501
Subjects: Teologi
Keywords: Shi’ah; Imamah; Ismah
Divisions: Program Doktor > Dirasah Islamiyah
Depositing User: Fadil Fadil
Date Deposited: 26 Feb 2024 02:20
Last Modified: 26 Feb 2024 02:20
URI: http://digilib.uinsa.ac.id/id/eprint/68470

Actions (login required)

View Item View Item