Analisis hukum islam dan yuridis terhadap perlindungan hak istri pasca cerai pada putusan nomor 2641/Pdt.G/2022/PA.Sda tentang cerai gugat akibat KDRT

This item is published by Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Syahidah, Fikriyah Amalina (2024) Analisis hukum islam dan yuridis terhadap perlindungan hak istri pasca cerai pada putusan nomor 2641/Pdt.G/2022/PA.Sda tentang cerai gugat akibat KDRT. Undergraduate thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

[img] Text
Fikriyah Amalina Syahidah_05040120114.pdf

Download (4MB)
[img] Text
Fikriyah Amalina Syahidah_05040120114_Full.pdf
Restricted to Repository staff only until 18 July 2027.

Download (4MB)

Abstract

Pada Putusan Nomor 2641/Pdt.G/2022/Pa.Sda tidak ditemukan pemberian hak nafkah kepada istri yang mengalami kdrt. Mahkamah Agung sebagai lembaga pengadilan melakukan terbosan hukum, agar istri yang menggugat cerai utamanya yang mengalami kdrt dapat diberikan nafkah berupa nafkah ʻiddah dan mut’ah. Penelitian ini merupakan penelitian normatif dengan menggunakan metode library research. Hal ini karena data utama dalam penelitian ini dihasilkan dari sumber kepustakaan atau literatur berupa dokumen putusan.Penelitian ini menggunakan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus. Data dikumpulkan dengan menggunakan studi dokumen. Kemudian data yang diperoleh akan diolah dengan cara editing, organizing, dan analyzing. Analisis data yang dilakukan menggunakan analisis secara deksriptif kualitatif, selanjutnya pola pikir yang digunakan adalah pola piker deduktif. Hasil penelitian menjelaskan :pertama, bentuk perlindungan hak istri pasca cerai pada putusan dengan nomor No. 2641/Pdt.G/2022/PA.Sda yang diputus secara verstek ialah dengan mengadili diluar petitum (ultra petita). Dapat dikatakan hakim dengan inisiatifnya dapat menetapkan atau memutuskan nafkah ʻiddah dan mutʼah sepanjang istri tidak terbukti nusyūz. Kedua, Dilihat dari segi hukum islam, bahwasanya perkara tersebut menunjukan hasil yang beragam. Hal ini dikarenakan didalam fiqih klasik dan KHI tidak dijelaskan secara spesifik mengenai pemberian hak istri pasca cerai berupa nafkah ʻiddah dan mutʼah pada cerai gugat. Sedangkan, jika dilihat dari segi yuridis, perkara ini telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Namun majelis hakim Pengadilan Agama Sidoarjo belum cukup adil dalam memutus perkara tersebut. Hal ini dikarenakan hakim secara ex officio/ karena jabatannya (Undang-Undang No. 1 Tahun 1974), PERMA No. 3 Tahun 2017 dan SEMA No. 3 Tahun 2018 dapat memberikan hak istri pasca cerai berupa nafkah ʻiddah dan mutʼah selama istri tidak terbukti nusyūz kepada suami. Sesuai dengan kesimpulan diatas, hal ini dapat menjadi suatu pertimbangan bagi hakim bahwasanya istri yang menggugat cerai dan korban kdrt bisa mendapatkan nafkah berupa nafkah ʻiddah dan mutʼah selama istri tidak berbuat nusyūz.

Statistic

Downloads from over the past year. Other digital versions may also be available to download e.g. from the publisher's website.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Creators:
CreatorsEmailNIM
Syahidah, Fikriyah Amalinafikriyahamalina6535@gmail.com05040120114
Contributors:
ContributionNameEmailNIDN
Thesis advisorSumarkan, Sumarkan--2010086401
Subjects: Cerai Gugat
Hukum Islam
Nikah
Keywords: Hukum Islam; yuridis; perlindungan; hak istri pasca cerai; cerai gugat
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Hukum Keluarga Islam
Depositing User: Fikriyah Amalina Syahidah
Date Deposited: 18 Jul 2024 07:52
Last Modified: 18 Jul 2024 07:52
URI: http://digilib.uinsa.ac.id/id/eprint/71957

Actions (login required)

View Item View Item