This item is published by Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Alif, Muhammad Ramzy Hilmy (2026) Perspektif Imam al-Ghazali dan Imam as-Syatibi terhadap tradisi midodareni di Desa Wringin Kecamatan Wringin Kabupaten Bondowoso. Undergraduate thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.
|
Text
Muhammad Ramzy Hilmy Alif_05010520011 full.pdf Restricted to Repository staff only until 8 May 2029. Download (3MB) |
|
|
Text
Muhammad Ramzy Hilmy Alif_05010520011.pdf Download (3MB) |
Abstract
Midodareni merupakan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Jawa, khususnya pada masyarakat Desa Wringin Kecamatan wringin Kabupaten Bondowoso yang dilakukan pada malam hari sebelum keesokan harinya akad nikah. Dengan berbagai praktik yang ada dalam tradisi midodareni dan memiliki tujuannya masing-masing, menjadikan permasalahan ketika terdapat praktik yang tidak relevan dengan nilai-nilai ajaran agama Islam. Melalui perspektif dari Imam As-Sha>t}ibi dan Imam Al-Ghaza>li dapat menjadi solusi untuk menyelesaikan permasalahan tradisi midodareni. Penelitian ini akan menjawab pertanyaan dalam rumusan masalah: bagaimana praktik midodareni di Desa Wringin Kecamatan Wringin Kabupaten Bondowoso dan bagaimana analisis Imam As-Sha>t}ibi dan Imam Al-Ghaza>li terhadap tradisi midodareni di Desa Wringin Kecamatan Wringin Kabupaten Bondowoso. Metode dalam penelitian ini menggunakan pendekatan metode empiris. Teknik analisis data menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pengumpulan data primer diperoleh melalui observasi di lapangan dan wawancara kepada sumber data yaitu calon pengantin wanita dan pria, masyarakat setempat, tokoh agama, dan tokoh adat, sementara data sekunder diperoleh dari buku, kitab, jurnal ilmiah, dan media sosial. Selanjutnya data-data tersebut dianalisis menggunakan perspektif dari Imam As-Sha>t}ibi dan Imam Al-Ghazali. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan: pertama, praktik tradisi midodareni di Desa Wringin Kecamatan Wringin Kabupaten Bondowoso diantaranya, seserahan keluarga calon pengantin pria, sungkeman dan wejangan, berdiamnya calon pengantin wanita dikamar, penutup dan doa, serta tedinan. Kedua, pandangan Imam As-Sha>t}ibi dan Imam Al-Ghaza>li berbeda terkait memahami makna ‘urf yang terjadi dalam tradisi midodareni. Imam As-Sha>t}ibi memaknai ‘urf sebagai tradisi yang dilakukan secara terus-menerus yang kemudian dapat dijadikan sumber hukum. Sedangkan Imam Al-Ghazali memaknai ‘urf haruslah di analisis dan dikritisi lebih dalam karena ‘urf berdasarkan dengan akal. Penulis menyarankan agar tradisi midodareni di Desa Wringin Kecamatan wringin Kabupaten Bondowoso harus tetap terlaksana karena dapat memberikan manfaat kepada masyarakat. Namun dalam praktik berdiamnya calon pengantin wanita dikamar yang meyakini adanya bidadari yang turun untuk mendoakan dan mempercantik calon pengantin wanita harus diganti sesuai dengan ‘urf shahih, serta dalam praktik tedinan dapat menimbulkan prasangka yang buruk dalam masyarakat.
Statistic
Downloads from over the past year. Other digital versions may also be available to download e.g. from the publisher's website.
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) | ||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Creators: |
|
||||||||
| Contributors: |
|
||||||||
| Subjects: | Hukum Islam Perbandingan Madzhab Tradisi |
||||||||
| Keywords: | Imam al-Ghazali; Imam as-Syatibi; tradisi midodareni | ||||||||
| Divisions: | Fakultas Syariah dan Hukum > Perbandingan Madzhab | ||||||||
| Depositing User: | Muhammad Ramzy Hilmy Alif | ||||||||
| Date Deposited: | 08 May 2026 09:17 | ||||||||
| Last Modified: | 08 May 2026 09:17 | ||||||||
| URI: | http://digilib.uinsa.ac.id/id/eprint/90301 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
