Aris, Mustofa (2023) Wacana moderasi islam indonesia di media: konstruksi nalar islam tradisional-progresif Kh. Ahmad Bahaudin Nursalim. Masters thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.
Mustofa Aris_F02119009 OK.pdf
Download (1MB)
Mustofa Aris_F02119009 Full.pdf
Restricted to Repository staff only until 5 October 2029.
Download (1MB)
Abstract
Penelitian ini bertujuan mengkonstruk pemikiran keislaman KH. Ahmad Bahaudin Nursalim. Penguasaannya terhadap literatur klasik dan kepiawaiannya dalam menyampaikan ajaran Islam membuatnya menjadi rujukan oleh sementara masyarakat, terutama masyarakat media sosial Youtube. Pikiran-pikiran dan gagasan progresifnya seringkali menjadi alternatif bagi masyarakat yang mengalami “kesulitan” dalam beragama. Oleh karenanya, melalui penelitian ini penulis ingin menjawab: 1) bagaimana kerangka epistemologi pemikiran Islam KH. Ahmad Bahaudin Nursalim dalam kaitannya dengan wacana moderasi Islam Indonesia di media? 2) bagaimana konstruksi nalar Islam tradisional-progresif KH. Ahmad Bahaudin Nursalim dalam kaitannya dengan penguatan moderasi beragama Indonesia di media? Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif-deksriptif. Teori dalam penelitian ini menggunakan teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Luckman, sedang pendekatannya menggunakan pendekatan fenomenologi. Hasil dari penelitian ini adalah: 1) kerangka epistemologi pemikiran Gus Baha berasal dari arahan orangtuanya, terutama abahnya, Kyai Nursalim. Juga tempaan dari gurunya Syaikhuna Maimoen Zubair. Kerangka epistemologi pemikiran Gus Baha juga sangat mungkin terbentuk berdasarkan refleksi atas setiap bacaan kitab. Dalam setiap ceramah yang diunggah di Youtube, Gus Baha selalu menyampaikan citra Islam yang harmonis dan damai. Ajaran Islam disampaikan dengan prinsip tasamuh, tawazun, tawasut yang merupakan instrumen moderasi agama sebagaimana telah disosialisasikan oleh Kemenag. Sehingga para penikmat kajian Youtube beliau juga dapat belajar tentang Islam moderat dengan lebih mudah. 2) Konstruksi nalar Islam tradisional-progresif Gus Baha terbentuk melalui tiga tahap simultan, yakni eksternalisasi: Gus Baha menampilkan pemikiran tradisionalnya secara utuh. Artinya apapun yang disampaikan Gus Baha dalam kajiannya di Youtube adalah nalar tradisional seorang santri. Objektivikasi: Gus Baha mulai melakukan interaksi dengan realitas sosial objektif. Dengan kata lain, Gus Baha mulai bersinggungan dengan problem-problem sosial keagamaan yang ada. Sehingga dalam ceramahnya beliau juga memberi tawaran solutif dalam beragama. Tawaran-tawaran yang disampaikan Gus Baha sangat progresif karena mendobrak kemapanan nalar tradisional itu sendiri. Dan terakhir internalisai: Gus Baha dan para penonton Youtube mulai melaukan identifikasi pada diri masing-masing. Sebagai individu, mereka mengidentifikasi diri dan mereaktualisasikan realitas objektif dalam kesadaran subjektifnya. Sebagai masyarakat, mereka juga melakukan hal serupa guna membentuk kesepakatan objektif menjadi kesepakatan intersubjektif. Hasilnya, Nuansa moderasi beragama dibangun Gus Baha dengan menanamkan nilai-nilai kedamaian, harmonis, terbuka, tawazun, tawasut, tidak berlebihan dan terciptanya kesalehan sosial.
| Item Type: | Thesis (Masters) | ||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Creators: |
|
||||||||
| Contributors: |
|
||||||||
| Uncontrolled Keywords: | Islam Moderat; Tradisional-Progresif; Gus Baha | ||||||||
| Subjects: | Islam Pemikiran |
||||||||
| Divisions: | Program Magister > Magister Aqidah dan Filsafat Islam | ||||||||
| Depositing User: | Mustofa Aris | ||||||||
| Date Deposited: | 05 Oct 2026 07:33 | ||||||||
| Last Modified: | 05 Oct 2026 07:33 | ||||||||
| URI: | https://digilib.uinsa.ac.id/id/eprint/80465 |
