Analisis makna khudu’ bi al-qawl dalam QS al-Ahzab[33] ayat 32: studi komparatif tafsir Jāmi’ al-Bayān fi Ta’wīl ay al-Qur’ān karya al-Tabari dan tafsir al-Munir karya Wahbah al-Zuhayli

Salma, Rihadatul Aisy (2026) Analisis makna khudu’ bi al-qawl dalam QS al-Ahzab[33] ayat 32: studi komparatif tafsir Jāmi’ al-Bayān fi Ta’wīl ay al-Qur’ān karya al-Tabari dan tafsir al-Munir karya Wahbah al-Zuhayli. Undergraduate thesis, Uin Sunan Ampel Surabaya.

[thumbnail of Salma Rihadatul Aisy_07040322129.pdf] Text
Salma Rihadatul Aisy_07040322129.pdf

Download (1MB)
[thumbnail of Salma Rihadatul Aisy_07040322129_Full.pdf] Text
Salma Rihadatul Aisy_07040322129_Full.pdf
Restricted to Repository staff only until 10 August 2029.

Download (1MB)

Abstract

Penelitian ini membahas makna khudu’ bi al-qawl dalam QS. Al-Ahzab ayat 32 melalui studi komparatif antara Tafsir Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān karya Al-Tabari dan Tafsir al-Munir karya Wahbah al-Zuhayli. Kajian ini dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan paradigma penafsiran antara mufasir klasik dan kontemporer dalam memahami frasa khudu’ bi al-qawl, serta pentingnya memahami relevansi ayat tersebut terhadap etika komunikasi di era modern. Selain itu, pembahasan mengenai ayat ini sering kali hanya dikaitkan dengan persoalan suara Perempuan sebagai aurat, sehingga diperlukan kajian yang lebih komprehensif mengenai makna dan tujuan ayat tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif dan menggunakan metode tafsir muqaran (komparatif). Sumber data primer yang digunakan adalah Tafsir Al-Tabari dan Tafsir al-Munir , sedangkan sumber data sekunder diperoleh dari berbagai buku, jurnal, skripsi, tesis, dan referensi lain yang relevan dengan tema penelitian. Data dianalisis secara deskriptif-komparatif untuk menemukan persamaan, perbedaan, serta implikasi penafsiran kedua mufasir terhadap etika komunikasi Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Tabari dan Wahbah al-Zuhayli sama-sama menafsirkan khudu’ bi al-qawl sebagai larangan bagi perempuan untuk berbicara dengan nada yang dilembutkan, manja, atau menggoda sehingga dapat menimbulkan ketertarikan pada laki-laki yang memiliki penyakit hati. Keduanya juga sepakat bahwa ayat ini tidak melarang komunikasi antara laki-laki dan perempuan secara mutlak, melainkan mengatur etika komunikasi agar terhindar dari fitnah dan penyimpangan moral. Perbedaan keduanya terletak pada pendekatan penafsiran yang digunakan. Al-Tabari lebih menekankan aspek riwayat, kebahasaan, dan pemahaman generasi awal Islam, sedangkan Wahbah al-Zuhayli lebih menonjolkan aspek kontekstual, sosial, dan relevansi ayat dalam kehidupan modern. Penelitian ini menyimpulkan bahwa makna khudu’ bi al-qawl tidak dapat dipahami sebagai pembatasan terhadap peran Perempuan dalam ruang publik, melainkan sebagai pedoman etika komunikasi yang bertujuan menjaga kehormatan, kesopanan, dan moralitas dalam interaksi sosial. Nilai-nilai yang terkandung dalam QS. Al-Ahzab ayat 32 tetap relevan untuk diterapkan dalam berbagai bentuk komunikasi modern, baik secara langsung maupun melalui media digital, sebagai upaya membangun komunikasi yang santun, profesional, dan sesuai dengan ajaran Islam.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Creators:
Name Email NIM
Salma, Rihadatul Aisy Salmarihadatulaisy9579@gmail.com 07040322129
Contributors:
Contribution Name Email NIDN
Thesis advisor Abu, Bakar Abu.bakar@uinsa.ac.id --
Thesis advisor Abdur, Rohman abdur.rohman@uinsa.ac.id 202111008
Uncontrolled Keywords: Khudu’ bi al-Qawl; QS. Al-Ahzab Ayat 32; al-Tabari; Wahbah al-Zuhayli; tafsir Muqaran; etika komunikasi Islam
Subjects: Agama dan Ilmu Pengetahuan
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Filsafat > Ilmu Alquran dan Tafsir
Depositing User: Salma Rihadatul Aisy
Date Deposited: 10 Aug 2026 01:12
Last Modified: 10 Aug 2026 01:12
URI: https://digilib.uinsa.ac.id/id/eprint/91556

Actions (login required)

View Item
View Item