Bayu, Saputro (2026) Harmoni dalam perbedaan: model pembauran masyarakat Islam-Hindu di Kampung Kepaon Denpasar Bali. Undergraduate thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.
Bayu Saputro_07020222026 full.pdf
Restricted to Repository staff only until 1 October 2029.
Download (2MB)
Bayu Saputro_07020222026.pdf
Download (2MB)
Abstract
Penelitian ini mengkaji model pembauran masyarakat Islam-Hindu di Kampung Kepaon, Kelurahan Pemogan, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar, Bali, dengan fokus pada dua permasalahan utama: (1) bagaimana model pembauran Islam-Hindu yang terbentuk di Kampung Kepaon, dan (2) bagaimana peran pemerintah dan masyarakat dalam merawat pembauran tersebut demi terwujudnya harmoni dalam perbedaan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif jenis studi kasus dengan pengumpulan data melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan tokoh agama, tokoh adat, perangkat desa, dan warga, serta studi dokumentasi, dan analisis data dilakukan secara induktif mengacu pada kerangka teori peran sosial Alvin L. Bertrand. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembauran di Kampung Kepaon dapat dikategorikan sebagai model pembauran integratif-kultural, yakni pola hubungan sosial yang tidak menghapus identitas masing-masing kelompok melainkan membangun harmoni melalui adaptasi budaya, interaksi sosial intensif, dan kesadaran kolektif, yang mencakup penggunaan Bahasa Bali sebagai bahasa komunikasi sehari-hari oleh komunitas Muslim, adopsi dan reinterpretasi tradisi lokal seperti Hikayat dan upacara tujuh bulanan, solidaritas sosial dalam tradisi saling melayat, penghormatan terhadap Hari Raya Nyepi, serta partisipasi bersama dalam kegiatan gotong royong, dengan peran pemerintah bersifat fasilitatifmenjaga stabilitas sosial, memfasilitasi dialog lintas kelompok, dan memperkuat kebijakan inklusif—sementara harmoni sesungguhnya tumbuh dari inisiatif masyarakat, dan analisis melalui teori Bertrand menunjukkan bahwa harmoni sosial di Kepaon merupakan hasil distribusi dan pelaksanaan peran sosial yang seimbang antara tokoh agama, tokoh adat, pemerintah, dan warga. Penelitian ini menegaskan bahwa harmoni sosial dalam masyarakat multikultural tidak tercipta secara spontan melainkan lahir dari proses sejarah yang panjang, interaksi sosial yang konkret, dan peran aktor-aktor sosial yang saling menguatkan, sehingga model Kampung Kepaon dapat menjadi rujukan konseptual dan praktis bagi penguatan kerukunan antarumat beragama di daerah urban yang heterogen di Indonesia.
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) | ||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Creators: |
|
||||||||
| Contributors: |
|
||||||||
| Uncontrolled Keywords: | Pembauran sosial; harmoni; Islam-Hindu; teori peran Bertrand | ||||||||
| Subjects: | Agama Akulturasi Budaya |
||||||||
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin dan Filsafat > Studi Agama - Agama | ||||||||
| Depositing User: | Bayu Saputro | ||||||||
| Date Deposited: | 01 Oct 2026 07:44 | ||||||||
| Last Modified: | 01 Oct 2026 07:44 | ||||||||
| URI: | https://digilib.uinsa.ac.id/id/eprint/92169 |
