Penafsiran ayat-ayat kesetaraan gender dalam tafsir ibnu ‘ashur perspektif qira’ah mubadalah penafsiran ayat-ayat kesetaraan gender dalam tafsir ibnu ‘ashur perspektif qira’ah mubadalah

Awwaliyah, Siti Zahrotul (2023) Penafsiran ayat-ayat kesetaraan gender dalam tafsir ibnu ‘ashur perspektif qira’ah mubadalah penafsiran ayat-ayat kesetaraan gender dalam tafsir ibnu ‘ashur perspektif qira’ah mubadalah. Masters thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

[thumbnail of Siti Zahrotul Awwaliyah_02040521060_Full.pdf] Text
Siti Zahrotul Awwaliyah_02040521060_Full.pdf

Download (3MB)

Abstract

Kesetaraan gender secara diskursus maupun prakteknya selalu menjadi perbincangan yang hangat dan tidak ada habisnya. Beberapa ayat Alquran juga dijadikan dalih atas superioritas laki-laki terhadap perempuan yang merujuk pada penafsiran para ulama klasik dengan di latar belakangi sesuai konteks kondisi pada saat penulisan kitab tafsirnya saat itu. Dalam Tafsir Tahrir wa at-Tanwir, yang ditulis oleh ulama terkemuka Muhammad al-Tahir ibn ‘Ashur terdapat juga terdapat beberapa penafsiran yang ditafsirkan sesuai dengan kondisi sosial politik yang mempengaruhi hasil penafsiran terkait ayat-ayat kesetaraan gender. Dengan demikian, dua rumusan masalah yang akan dibahas terkait penafsiran ayat-ayat kesetaraan gender dalam tafsir Ibnu ‘Ashur yakni; bagaimana penafsiran Ibnu ‘Ashur terhadap ayat-ayat kesetaraan gender dan bagaimana penafsiran Ibnu ‘Ashur tersebut jika dibaca ulang menggunakan perspektif qira’ah mubadalah. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan analisis qira’ah mubadalah terhadap tafsir Ibnu ‘Ashur yang berhubungan dengan ayat-ayat yang berkaitan dengan kesetaraan gender. Setelah melakukan penelitian, dapat disimpulkan bahwa Ibnu ‘Ashur menafsirkan QS. al-Nisa’ ayat 3 dengan merumuskan beberapa kemaslahatan umum sebagai bentuk maqasid maslahat jika poligami dapat dilaksanakan. Dalam QS. al-Nisa’ [3]: 34, Ibnu ‘Ashur menyatakan bahwa ayat tersebut berorientasi pada persoalan tetekeluarga atau lingkup domestik saja yang disebabkan laki-laki dan perempuan tidak memenuhi kriteria ditegakkannya maqasid kesetaraan karena dianulir oleh faktor jibillah (nature theory). Sedangkan pada QS. Ali Imran ayat 36, Ibnu ‘Ashur menafsirkan wa laisa al-dzakaru ka al-Untsa memiliki arti laki-laki sebagai jenis kelamin saja dengan artian laki-laki tidak sama dengan jenis kelamin perempuan. Pengaplikasian perspektif qira’ah mubadalah pada penafsiran Ibnu ‘Ashur terhadap terhadap ayat-ayat kesetaraan gender pada penelitian ini terfokus pada term gender yakni poligami (QS. al-Nisa’ [4]: 3, relasi antara laki-laki dan perempuan (QS. al-Nisa’ [4]: 34) dan martabat kemanusiaan perempuan (QS. Ali Imran [3]: 36 yang diterapkan dengan ketiga cara kerja mubadalah

Item Type: Thesis (Masters)
Creators:
Name Email NIM
Awwaliyah, Siti Zahrotul zahrotul.aw@gmail.com 02040521060
Contributors:
Contribution Name Email NIDN
Thesis advisor Umami, Khoirul k.umami@uinsby.ac.id 2002117101
Thesis advisor Azizah, Imroatul im.azizah1973@gmail.com 2011087302
Uncontrolled Keywords: Kesetaraan gender; Ibnu ‘Ashur; qira’ah mubadalah
Subjects: Al Qur'an
Tafsir > Tafsir Al Qur'an
Divisions: Program Magister > Ilmu Alquran dan Tafsir
Depositing User: Siti Zahrotul Awwaliyah
Date Deposited: 06 Aug 2026 02:42
Last Modified: 06 Aug 2026 02:45
URI: https://digilib.uinsa.ac.id/id/eprint/93063

Actions (login required)

View Item
View Item