Makna kebahagiaan dalam perspektif psikologi positif: studi metodologi tafsir

Masruro, Uliyatul (2026) Makna kebahagiaan dalam perspektif psikologi positif: studi metodologi tafsir. Undergraduate thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

[thumbnail of Uliyatul Masruro_07010321025.pdf] Text
Uliyatul Masruro_07010321025.pdf
Restricted to Repository staff only until 7 August 2029.

Download (1MB)
[thumbnail of Uliyatul Masruro_07010321025 full.pdf] Text
Uliyatul Masruro_07010321025 full.pdf

Download (1MB)

Abstract

Penelitian ini mengkaji makna kebahagiaan dalam al-Qur’an perspektif mufasir modern melalui analisis term al-Sa‘ādah, faraḥ, dan surūr serta relevansinya dengan Well-Being Theory Martin Seligman. Kajian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya memahami konsep kebahagiaan dalam al-Qur’an yang tidak hanya berkaitan dengan aspek emosional, dan psikologis, tetapi juga mencakup dimensi spiritual dan eskatologis. Penelitian berfokus pada penafsiran Aḥmad ibn ‘Ajībah dalam al-Baḥr al-Madīd, Muḥammad Mutawallī al-Sya‘rāwī dalam Tafsīr al-Sya‘rāwī, dan Muḥammad Sayyid Ṭanṭāwī al-Tafsīr al-Wasīṭ terhadap QS. Hūd [11]: 105 dan 108, QS. Yūnus [10]: 58, QS. al-Insān [76]: 11, serta QS. al-Insyiqāq [84]: 9 dan 13. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif deskriptif analitis. Data penelitian diperoleh dari ktab-kitab tafsir yang menjadi sumer perimer dan berbagai literatur pendukung sebagai sumber sekunder. Data dianalisis melalui proses interpretasi terhadap penafsiran para mufasir, kemudian dikaitkan dengan Well-Being Theory Martin Seligman yang meliputi unsur Positive Emotion, Engagement, Relationships, Meaning, dan Accomplishment (PERMA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebahagiaan dalam perspektif mufasir modern tidak dimaknai sekadar sebagai perasaan senang, melainkan sebagai kondisi yang mencakup dimensi emosional, spiritual, moral, dan eskatologis. Al-Sa‘ādah dimaknai sebagai keadaan keselamatan, kebahagiaan, dan kenikmatan yang dianugerahkan Allah kepada orang-orang beriman, baik berupa ketenteraman spiritual di dunia maupun kebahagiaan abadi di akhirat. Faraḥ dimaknai sebagai kegembiraan yang terpuji apabila bersumber dari karunia dan rahmat Allah, seperti iman, Islam, al-Qur’an, dan petunjuk-Nya, sedangkan kegembiraan yang berpusat pada kesombongan dan keterikatan terhadap dunia dipandang sebagai kegembiraan yang tercela. Adapun surūr menunjukkan kegembiraan dan kelapangan hati yang dapat bernilai positif maupun negatif bergantung pada sumber dan orientasinya, surūr orang beriman berakar pada iman, ampunann dan rahmat Allah, sedangkan surūr orang kafir bersumber dari kelalaian terhadap kehidupan akhirat. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa konsep kebahagiaan dalam al-Qur’an memiliki relevansi dengan seluruh unsur PERMA, yaitu positive emotion, engagement, relationships, meaning, dan accomplishment. Namun, konsep kebahagiaan dalam al-Qur’an memiliki cakupan yang lebih luas karena tidak hanya berorientasi pada kesejahteraan manusia di dunia, tetapi juga mencakup hubungan dengan Allah serta keselamatan dan kebahagiaan yang kekal di akhirat. Diantara kelima unsur PERMA, aspek meaning menjadi unsur yang paling dominan karena seluruh bentuk kebahagiaan yang ditemukan berpusat pada keimanan, petunjuk Allah, dan pencarian ridha-Nya.Kata Kunci: Kebahagiaan, al-Qur’an, Tafsir Modern, Well-Being Theory.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Creators:
Name Email NIM
Masruro, Uliyatul uliyatulmasruro@gmail.com 07010321025
Contributors:
Contribution Name Email NIDN
Thesis advisor Ghozi, Ghozi ghozi.ichsan@uinsby.ac.id 2019107701
Uncontrolled Keywords: Kebahagiaan; al-Qur’an; tafsir modern; Well-Being theory
Subjects: Psikologi
Tafsir > Tafsir Al Qur'an
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Filsafat > Ilmu Alquran dan Tafsir
Depositing User: Uliyatul Masruro
Date Deposited: 07 Aug 2026 07:33
Last Modified: 07 Aug 2026 07:33
URI: https://digilib.uinsa.ac.id/id/eprint/93507

Actions (login required)

View Item
View Item