Pangastuti, Putri Diana (2026) larangan visualisasi wajah nabi oleh artificial intellegensi (AI): kajian ma’anil hadis riwayat Imam Bukhori no. 1832 dalam perspektif hermeneutika Hans-Georg Gadamer. Undergraduate thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.
Putri Diana Pangastuti_07020521052.pdf
Download (3MB)
Putri Diana Pangastuti_07020521052_Full.pdf
Restricted to Repository staff only until 13 August 2029.
Download (3MB)
Abstract
Penghormatan terhadap kemuliaan Rasulullah ﷺ merupakan prinsip fundamental dalam Islam, yang mencakup larangan memvisualisasikan wajah beliau guna menjaga kesucian akidah dari potensi pengkultusan. Fokus utama penelitian ini adalah kajian Ma’anil Hadis dan kehujjahan hadis tentang larangan menggambar makhluk hidup dalam riwayat Imam Bukhori No. 1832, khususnya dalam konteks penggunaan teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk merekonstruksi wajah Nabi. Analisis kritik sanad menunjukkan bahwa hadis ini memiliki sanad yang bersambung dengan perawi yang mayoritas dinilai tsiqah dan shalih, sehingga dapat dijadikan sebagai hujjah. Meskipun terdapat perawi seperti Simak bin Harb yang terkadang melakukan kesalahan (sadūq rubbamā akhṭa’a), namun secara keseluruhan kualitas hadis ini tetap kuat untuk mendasari hukum etika visualisasi. Pemaknaan hadis ini melalui perspektif Ma’anil Hadis menegaskan adanya ancaman keras bagi pembuat gambar (al-muṣawwirūn) karena adanya unsur penyerupaan terhadap ciptaan Allah (mudhāhāh) yang dapat menyeret pada kesyirikan. Dalam konteks modern, penelitian ini menggunakan teori Hermeneutika Hans-Georg Gadamer untuk menganalisis teks melalui tiga tahapan: pemahaman teks, kesadaran sejarah, dan kesadaran efektif. Melalui pendekatan cakrawala (horizon), ditemukan bahwa meskipun AI adalah produk teknologi yang bermanfaat, penggunaannya untuk memvisualisasikan wajah Nabi tetap dilarang karena subjektivitas algoritma AI tidak akan pernah mencapai realitas autentik dan justru berisiko menodai kesucian spiritual beliau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi antara nilai tauhid dan perkembangan teknologi harus tetap berlandaskan pada prinsip kehati-hatian. Kesimpulan dari berbagai perspektif, baik hadis maupun filosofis, menegaskan bahwa visualisasi Nabi oleh AI merupakan bentuk pelanggaran etika teologis karena melampaui batas-batas sakralitas yang telah ditetapkan oleh syariah. Oleh karena itu, penggunaan AI dalam aspek-aspek sensitif keagamaan harus disesuaikan dengan standar moral Islam guna menghindari manipulasi visual dan menjaga kemurnian ajaran agama di era digital.
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) | ||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Creators: |
|
||||||||
| Contributors: |
|
||||||||
| Uncontrolled Keywords: | Larangan visualisasi wajah nabi; artificial intelligence (AI); visualisasi Nabi; Imam Bukhori; Hans-Georg Gadamer | ||||||||
| Subjects: | Internet Kecerdasan Hadis |
||||||||
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin dan Filsafat > Ilmu Hadis | ||||||||
| Depositing User: | Putri Diana Pangastuti Putri | ||||||||
| Date Deposited: | 13 Aug 2026 01:59 | ||||||||
| Last Modified: | 13 Aug 2026 01:59 | ||||||||
| URI: | https://digilib.uinsa.ac.id/id/eprint/94433 |
