Analisis hukum Islam terhadap tradisi Masa Pantang Matang Puluh Dino (larangan menikah bagi mantan suami sebelum 40 hari kematian istri) di Desa Jatisari Kecamatan Purwodadi Kabupaten Pasuruan

Rizqillah, Gilang Fajar (2026) Analisis hukum Islam terhadap tradisi Masa Pantang Matang Puluh Dino (larangan menikah bagi mantan suami sebelum 40 hari kematian istri) di Desa Jatisari Kecamatan Purwodadi Kabupaten Pasuruan. Undergraduate thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

[thumbnail of Gilang Fajar Rizqillah_050401220118 full.pdf] Text
Gilang Fajar Rizqillah_050401220118 full.pdf
Restricted to Repository staff only until 15 September 2029.

Download (3MB)
[thumbnail of Gilang Fajar Rizqillah_050401220118.pdf] Text
Gilang Fajar Rizqillah_050401220118.pdf

Download (3MB)

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya tradisi Matang Puluh Dino di Desa Jatisari Kecamatan Purwodadi Kabupaten Pasuruan, yaitu larangan bagi seorang duda untuk menikah kembali sebelum genap 40 hari sejak kematian istrinya. Tradisi tersebut dipandang sebagai bentuk penghormatan kepada almarhumah istri dan etika berkabung, sementara dalam hukum Islam tidak terdapat ketentuan mengenai kewajiban masa ʿiddah bagi laki-laki. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui praktik tradisi Matang Puluh Dino dan menganalisisnya dalam perspektif hukum Islam. Penelitian ini merupakan penelitian hukum empiris dengan pendekatan kualitatif. Data primer diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap tokoh agama, tokoh masyarakat, dan masyarakat Desa Jatisari, sedangkan data sekunder diperoleh dari Al-Qur’an, hadis, kitab fikih, buku, jurnal, dan peraturan perundang-undangan. Data dianalisis secara deskriptif-kualitatif dengan pola berpikir induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Matang Puluh Dino masih dilestarikan sebagai bentuk penghormatan kepada almarhumah istri dan upaya menjaga keharmonisan sosial. Pelanggaran terhadap tradisi ini dapat menimbulkan sanksi sosial berupa celaan, gunjingan, dan pengucilan. Dalam perspektif hukum Islam, tradisi tersebut termasuk ‘urf ṣaḥīḥ karena mengandung kemaslahatan dan tidak bertentangan dengan syariat, serta sejalan dengan maqāṣid al-sharīʿah dan konsep shibhul ʿiddah bagi laki-laki. Berdasarkan hasil penelitian, tradisi Matang Puluh Dino dapat terus dilestarikan sebagai adat masyarakat selama tidak dipandang sebagai kewajiban syariat yang bersifat mutlak. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang proporsional mengenai perbedaan antara ketentuan adat dan ajaran Islam agar pelaksanaannya tidak menimbulkan keyakinan yang bertentangan dengan syariat maupun memberatkan pihak tertentu

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Creators:
Name Email NIM
Rizqillah, Gilang Fajar gilangrizqillah20@gmail.com 05040122018
Contributors:
Contribution Name Email NIDN
Thesis advisor Musarrofa, Ita itaisme@gmail.com 2001087901
Uncontrolled Keywords: Hukum Islam; tradisi; larangan menikah; mantan suami; kematian istri
Subjects: Hukum Islam
Tradisi
Adat
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Hukum Keluarga Islam
Depositing User: Gilang Fajar Rizqillah
Date Deposited: 15 Sep 2026 05:34
Last Modified: 15 Sep 2026 05:34
URI: https://digilib.uinsa.ac.id/id/eprint/95386

Actions (login required)

View Item
View Item