Atha'illah, Muhammad (2026) Validitas Hujjah Al-Khibrah dalam masalah sound horeg di media sosial Perspektif Asy-Syatibi. Masters thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.
Muhammad Atha'illah_02040122013 OK.pdf
Download (3MB)
Muhammad Atha'illah_02040122013 Full.pdf
Restricted to Repository staff only until 5 November 2029.
Download (3MB)
Abstract
Penelitian ini membahas konstruksi epistemologi otoritas hujjah menurut alShāṭibī serta dinamika perbincangan keagamaan di media sosial dalam kasus fatwa haram sound horeg MUI Jawa Timur. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis wacana digital, studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana hierarki dalil dan kedudukan Ahl Al-Khibrah dalam ushul fiqh diuji di ruang public digital, serta bagaimana struktur argumentasi masyarakat merespons fatwa yang berbasis verifikasi ilmiah. Kerangka teoritis dalam penelitian ini mencakup epistemologi al-Shāṭibī tentang qaṭ‘ī dan ẓannī, konsep taḥqīq al-manāṭ, serta kritiknya terhadap taklid dan popularitas semu. Dengan menganalisis data dari platform YouTube, Instagram, TikTok, Facebook, dan X secara menyeluruh, penelitian ini memberikan pemahaman tentang pergeseran otoritas keilmuan di era disrupsi digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi epistemologi alShāṭibī menekankan kepastian maknawi melalui induksi (istiqrā’ ma‘nawī) dan mewajibkan rujukan kepada Ahl Al-Khibrah dalam verifikasi realitas, yang terbukti diterapkan dalam fatwa sound horeg MUI Jatim melalui keterlibatan dokter spesialis THT. Namun, di media sosial, argumentasi masyarakat terbagi menjadi tiga tipologi: rasional (minoritas, mendekati kerangka al-Shāṭibī), emosional-simbolik (dominan, mengabaikan data ilmiah), dan otoritatif populis (diwakili tokoh agama yang menyederhanakan isu). Negosiasi otoritas bergeser dari authority of knowledge ke authority of influence yang difasilitasi algoritma, disertai distorsi epistemic (penyederhanaan berlebihan, Cherry-picking, penghilangan konteks) dan delegitimasi personal terhadap ulama dan ahli. Implikasi teoretisnya adalah bahwa prinsip la ḥukma li al-mashhur al-Shaṭibi tetap relevan, namun otoritas keilmuan perlu beradaptasi dengan logika algoritma tanpa mengorbankan integritas substantif.
| Item Type: | Thesis (Masters) | ||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Creators: |
|
||||||||||||
| Contributors: |
|
||||||||||||
| Uncontrolled Keywords: | Hujjah; Ahl Al-Khibrah; Media Sosial | ||||||||||||
| Subjects: | Hukum Islam Ijtihad Media Sosial Pemikiran Agama dan Ilmu Pengetahuan |
||||||||||||
| Divisions: | Program Magister > Studi Islam | ||||||||||||
| Depositing User: | Muhammad Atha'illah | ||||||||||||
| Date Deposited: | 05 Nov 2026 07:43 | ||||||||||||
| Last Modified: | 05 Nov 2026 07:43 | ||||||||||||
| URI: | https://digilib.uinsa.ac.id/id/eprint/96178 |
