This item is published by Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Saniyah, Naily (2025) Gap year dan dinamika identitas mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya dalam perspektif sosiologi. Undergraduate thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.
|
Text
Naily Saniyah_10030322084 Full.pdf Download (3MB) |
|
|
Text
Naily Saniyah_10030322084 OK.pdf Restricted to Repository staff only until 10 January 2029. Download (3MB) |
Abstract
Fenomena gap year di kalangan mahasiswa—khususnya di perguruan tinggi berbasis keagamaan seperti UIN Sunan Ampel Surabaya—masih kerap dipandang negatif sebagai bentuk penundaan atau kegagalan akademik. Padahal, pengalaman gap year dapat menjadi ruang transformatif yang membentuk identitas sosial mahasiswa secara mendalam. Penelitian ini bertujuan menjawab tiga rumusan masalah: (1) bagaimana pengalaman gap year membentuk identitas sosial mahasiswa, (2) mengapa mahasiswa memutuskan kuliah setelah gap year, dan (3) bagaimana respon teman sebaya memengaruhi konstruksi identitas tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi terhadap 8 mahasiswa gap year dan 4 mahasiswa reguler (non–gap year) di UIN Sunan Ampel Surabaya. Analisis data dilakukan secara tematik dengan triangulasi sumber, teknik, dan peneliti untuk memastikan keabsahan temuan. Kerangka teoretis yang digunakan adalah Teori Tindakan Sosial Max Weber, yang memandang tindakan manusia sebagai ekspresi makna subjektif yang dapat diklasifikasikan ke dalam empat tipe ideal: zweckrational (rasional-instrumental), wertrational (rasional-nilai), afektif, dan tradisional.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa identitas sosial pasca–gap year tidak ditentukan oleh lamanya jeda, melainkan oleh makna yang diberikan terhadap pengalaman tersebut. Mahasiswa yang memaknai gap year sebagai waktu untuk memperdalam agama, bekerja membantu keluarga, atau mengembangkan keterampilan cenderung membangun identitas yang kuat, percaya diri, dan matang secara emosional. Sebaliknya, mereka yang menghabiskan masa jeda tanpa tujuan justru mengalami krisis identitas dan rasa minder. Keputusan untuk kuliah setelah gap year juga bervariasi: ada yang didorong oleh komitmen nilai (wertrational), pertimbangan strategis (zweckrational), tekanan sosial, atau bahkan pencarian ruang baru. Selain itu, respon teman sebaya sangat menentukan: dukungan dan pemahaman memperkuat identitas, sedangkan penilaian normatif memicu rasa malu dan keterasingan. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa gap year bukanlah penanda kegagalan, melainkan bentuk ketahanan eksistensial di mana mahasiswa secara aktif menafsir, memilih, dan membangun identitas melalui berbagai bentuk rasionalitas. Melalui lensa Max Weber, gap year tampak bukan sebagai penyimpangan, tetapi sebagai tindakan bermakna yang mencerminkan kedalaman refleksi diri dalam menghadapi tekanan dunia modern yang menuntut efisiensi tanpa makna
Statistic
Downloads from over the past year. Other digital versions may also be available to download e.g. from the publisher's website.
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) | ||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Creators: |
|
||||||||
| Contributors: |
|
||||||||
| Subjects: | Sosiologi | ||||||||
| Keywords: | Gap year; Identitas sosial; Teori Pilihan Rasional; Mahasiswa. | ||||||||
| Divisions: | Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Sosiologi | ||||||||
| Depositing User: | Naily Saniyah | ||||||||
| Date Deposited: | 10 Jan 2026 14:19 | ||||||||
| Last Modified: | 10 Jan 2026 14:19 | ||||||||
| URI: | http://digilib.uinsa.ac.id/id/eprint/85867 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
