Makna zahrah al-ḥayah al-dunya dalam QS. Ṭaha ayat 131 aplikasi teori Ma’nā Cum Maghza

This item is published by Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Ayuningtyas, Yani (2026) Makna zahrah al-ḥayah al-dunya dalam QS. Ṭaha ayat 131 aplikasi teori Ma’nā Cum Maghza. Undergraduate thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

[img] Text
Yani Ayuningtyas_07020321086 OK.pdf

Download (2MB)
[img] Text
Yani Ayuningtyas_07020321086 Full.pdf
Restricted to Repository staff only until 7 May 2029.

Download (2MB)

Abstract

Fenomena ketertarikan manusia terhadap kemewahan dunia semakin menguat di era modern, yang ditandai oleh budaya konsumtif, materialisme, serta pencitraan diri melalui media sosial. Al-Qur’an merespons kecenderungan ini melalui berbagai ayat yang menggambarkan dunia sebagai sesuatu yang indah namun bersifat sementara. Salah satunya adalah frasa zahrah al-ḥayāh al-dunyā dalam surah Ṭāhā ayat 131 yang menggambarkan daya tarik dunia yang memikat tetapi berpotensi menipu. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini merumuskan permasalahan mengenai bagaimana penafsiran surah Ṭāhā ayat 131 terhadap frasa zahrah al-ḥayāh al-dunyā serta bagaimana pesan moral ayat tersebut dipahami melalui pendekatan kontekstual ma’nā cum maghzā. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap makna frasa tersebut dalam tafsir klasik dan modern, serta merumuskan pesan moral yang relevan dengan konteks kehidupan masyarakat kontemporer. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan ma’nā cum maghzā yang dikembangkan oleh Sahiron Syamsuddin, melalui tiga tahapan, yaitu penggalian makna historis (al-ma’nā al-tārīkhī), identifikasi signifikansi fenomenal historis (al-maghzā al-tārīkhī), dan pengembangan signifikansi fenomenal dinamis (al-maghzā al-mutaḥarrik). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mufasir klasik-pertengahan seperti al-Ṭabarī, al-Biqāi dan al-Suyūṭī memaknai zahrah al-ḥayāh al-dunyā sebagai perhiasan dunia yang indah namun sementara dan berfungsi sebagai ujian bagi manusia. Sementara itu, mufasir modern-kontemporer seperti al-Marāghī dan al-Zuhaylī menekankan larangan kekaguman berlebihan terhadap kenikmatan dunia, khususnya harta yang dimiliki orang kafir, serta mengarahkan manusia untuk lebih mengutamakan karunia Allah yang bersifat kekal. Pendekatan ma’nā cum maghzā menunjukkan bahwa surah Ṭāhā ayat 131 tidak hanya memiliki makna historis, tetapi juga relevansi lintas zaman. Pada konteks awal, ayat ini berfungsi sebagai kritik terhadap pandangan yang mengagungkan kemewahan dunia. Dalam konteks kekinian, pesan tersebut tetap berlaku sebagai penegasan agar manusia tidak menjadikan dunia sebagai pusat penilaian terhadap nilai kehidupan. Pesan ini mencerminkan kesinambungan makna Al-Qur’an dalam membimbing sikap manusia terhadap kehidupan dunia yang bersifat sementara.

Statistic

Downloads from over the past year. Other digital versions may also be available to download e.g. from the publisher's website.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Creators:
CreatorsEmailNIM
Ayuningtyas, Yaniayuningtyasyani@gmail.com07020321086
Contributors:
ContributionNameEmailNIDN
Thesis advisorUmami, Khoirulk.umami@uinsby.ac.id2002117101
Subjects: Al Qur'an
Tafsir > Tafsir Al Qur'an
Keywords: Zahrah al-ḥayah al-dunya; Bunga Kehidupan Dunia; Surah Ṭaha [20] 131; Ma’na Cum Maghza; Tafsir Kontekstual;
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Filsafat > Ilmu Alquran dan Tafsir
Depositing User: Yani Ayuningtyas
Date Deposited: 07 May 2026 01:11
Last Modified: 07 May 2026 01:14
URI: http://digilib.uinsa.ac.id/id/eprint/88010

Actions (login required)

View Item View Item