This item is published by Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Arofah, Dewi (2026) Membaca konflik Ambon (1999-2002) dalam perspektif moderasi Islam Din Syamsuddin. Undergraduate thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.
|
Text
Dewi Arofah_03020222028.pdf Download (3MB) |
|
|
Text
Dewi Arofah_03020222028_Full.pdf Restricted to Repository staff only until 25 May 2029. Download (3MB) |
Abstract
Penelitian ini berjudul “Membaca Konflik Ambon (1999-2002) dalam Perspektif Moderasi Islam Din Syamsuddin” berisi tiga rumusan masalah yang dibahas, yaitu: (1) Bagaimana gambaran umum konflik Ambon yang terjadi pada tahun 1999-2002?; (2) Apa yang melatarbelakangi pemikiran moderasi Islam Din Syamsuddin?; (3) Bagaimana konflik Ambon tahun 1999–2002 ditinjau melalui perspektif moderasi Islam Din Syamsuddin?. Untuk menjawab permasalahan tersebut, penulis menerapkan metode penelitian sejarah (historis) yang terdiri dari empat tahap, yaitu pengumpulan sumber (heuristik), kritik sumber (verifikasi), penafsiran sumber (interpretasi), dan penulisan sejarah (historiografi). Pengumpulan didapat dengan menggunakan metode studi pustaka (library research). Dalam menganalisis konflik, penelitian ini menggunakan teori konflik Lewis A. Coser yang memandang konflik tidak hanya bersifat destruktif, tetapi juga dapat memiliki fungsi sosial, seperti memperkuat solidaritas kelompok, mempertegas identitas, serta membuka peluang terciptanya perubahan sosial dan integrasi baru. Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa: (1) Konflik Ambon 1999–2002 merupakan konflik sosial, ekonomi, dan politik yang dibungkus identitas agama sebagai alat mobilisasi massa. Konflik berkembang melalui pola kekerasan dan balas dendam hingga akhirnya diselesaikan melalui Perjanjian Malino II tahun 2002 dengan pendekatan struktural, kultural, dan partisipatif; (2) Pemikiran moderasi Islam Din Syamsuddin dipengaruhi oleh faktor keluarga, pendidikan, pengalaman organisasi, serta kondisi sosial global. Gagasannya berlandaskan konsep wasathiyah yang menekankan keseimbangan, keadilan, toleransi, dan penolakan terhadap ekstremisme; (3) Menurut Din Syamsuddin, konflik Ambon bukan konflik agama secara substantif, melainkan konflik sosial politik yang menggunakan simbol keagamaan. Tujuh prinsip moderasi Islam menjadi landasan penyelesaian konflik melalui penguatan toleransi, dialog, keadilan, rekonsiliasi, dan kesadaran kewarganegaraan.
Statistic
Downloads from over the past year. Other digital versions may also be available to download e.g. from the publisher's website.
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) | ||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Creators: |
|
||||||||||||
| Contributors: |
|
||||||||||||
| Subjects: | Angkatan Bersenjata Demokrasi Islam Kekerasan |
||||||||||||
| Keywords: | Din Syamsuddin; konflik Ambon; moderasi Islam; wasathiyah | ||||||||||||
| Divisions: | Fakultas Adab dan Humaniora > Sejarah dan Peradaban Islam | ||||||||||||
| Depositing User: | dewi arofah | ||||||||||||
| Date Deposited: | 25 May 2026 01:29 | ||||||||||||
| Last Modified: | 25 May 2026 01:29 | ||||||||||||
| URI: | http://digilib.uinsa.ac.id/id/eprint/90843 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
