This item is published by Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Hananta, Yuda Novian (2026) Pemenuhan hak keagamaan anak dalam keluarga campuran beda agama menurut hukum Islam di Desa Gemurung Kecamatan Gedangan Sidoarjo. Undergraduate thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.
|
Text
Yuda Novian Hananta_05020122092.pdf Download (2MB) |
|
|
Text
Yuda Novian Hananta_05020122092_Full.pdf Restricted to Repository staff only until 15 June 2029. Download (2MB) |
Abstract
Penelitian ini menganalisis problematika pemenuhan hak keagamaan anak dalam konteks keluarga campuran beda agama, dengan studi kasus pasangan suami Warga Negara Asing (WNA) beragama Konghucu dan istri Warga Negara Indonesia (WNI) beragama Islam di Desa Gemurung, Sidoarjo. Anak sebagai amanah Allah SWT seharusnya mendapatkan perlindungan akidah yang utuh, namun realitas perkawinan beda agama sering kali memicu dualisme orientasi pendidikan dan krisis identitas spiritual. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan praktik pemenuhan hak keagamaan anak di lapangan serta menganalisis kedudukan spiritual anak tersebut dalam perspektif Hukum Islam. Metode yang digunakan adalah penelitian empiris dengan pendekatan kualitatif yuridis-empiris. Data primer diperoleh melalui observasi dan wawancara mendalam terhadap orang tua dan anak yang telah mencapai usia dewasa/balig. Data dianalisis menggunakan model deduktif dengan pisau analisis teori Maqāṣid Al-Sharī‘ah, khususnya pilar Hifdzu Din (perlindungan agama) guna mengevaluasi fakta sosiologis yang ditemukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik pemenuhan hak keagamaan anak mengalami pengabaian (taqshir) pada seluruh aspek Hifdzu Din. Dalam aspek Tarbiyah, instruksi ibadah masih bersifat verbal tanpa pembiasaan berkelanjutan, sementara pada aspek kebebasan berpikir, ketiadaan bimbingan dialogis membuat identitas Islam anak sebatas administratif. Selain itu, aspek al-Taysir dan perlindungan akidah tidak difasilitasi secara nyata, diperburuk oleh gagalnya dukungan lingkungan di level keluarga, sekolah, maupun komunitas. Kondisi ini menimbulkan kemudaratan nyata dan melanggar hak fundamental anak untuk mengenal Tuhan sesuai fitrah Islamiyah. Sebagai rekomendasi, orang tua, khususnya ibu Muslim, diharapkan menyadari bahwa kewajiban Tarbiyah tetap melekat meskipun terdapat perbedaan keyakinan pasangan. Tokoh agama setempat juga perlu melakukan pembinaan aktif terhadap keluarga campuran yang rentan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa hak keagamaan bukan sekadar masalah administrasi identitas, melainkan kebutuhan asasi yang menentukan integritas kepribadian dan keselamatan agama anak di masa depan.
Statistic
Downloads from over the past year. Other digital versions may also be available to download e.g. from the publisher's website.
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) | ||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Creators: |
|
||||||||
| Contributors: |
|
||||||||
| Subjects: | Keluarga > Keluarga - Anak | ||||||||
| Keywords: | WNA; pernikahan beda agama | ||||||||
| Divisions: | Fakultas Syariah dan Hukum > Hukum Keluarga Islam | ||||||||
| Depositing User: | Yuda Yuda Hananta | ||||||||
| Date Deposited: | 15 Jun 2026 08:59 | ||||||||
| Last Modified: | 15 Jun 2026 08:59 | ||||||||
| URI: | http://digilib.uinsa.ac.id/id/eprint/91128 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
