Yakin, Ainul (2020) Islam dan tradisi lokal: studi konstruksi sosial atas Upacara Molod Masyarakat Bawean. Doctoral thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.
Ainul Yakin _F53416007 OK.pdf
Download (4MB)
Ainul Yakin _F53416007 Full.pdf
Restricted to Repository staff only until 10 October 2029.
Download (4MB)
Abstract
Tema kajian ini adalah tradisi keagamaan masyarakat Bawean yaitu peringatan maulid nabi Muhammad Saw. (molod) dalam perspektif sosiologis. Perspektif tersebut digunakan untuk mengetahui konstruksi upacara, proses pembentukan serta tipologi masyarakat dalam mengkonstruksi upacara molod. Oleh karenanya, kerangka teori yang digunakan adalah konstruksi sosial Peter. L. Berger dan Tomas Luckmann sebagai alat analisis untuk mengurai bagaimana tradisi molod terbentuk. Maka, jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Sebab objek kajian ini adalah masyarakat dengan berbagai latar belakang etnis dan organisasi keagamaan yang beragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi upacara molod masyarakat Bawean merupakan bentuk kesyukuran atas lahirnya nabi Muhammad saw. yang dikemas dengan tradisi dan artibut budaya lokal untuk meneladani Nabi Muhammad Saw. Kemasan tersebut adalah hasil interseksi antara nilai-nilai keislaman dengan nilai-nilai budaya lokal. Interseksi nilai-nilai budaya dan Islam mewujud dalam ruang budaya yang disebut molod. Interseksi ini menjadi pilihan masyarakat Bawean yang multikultur, guna terjadinya harmonisasi atas perbedaan latar belakang budaya dan etnis. Temuan berikutnya adalah, dalam mengkonstruksi upacara molod, ada tiga tahap dialektika yang saling berkaitan yaitu, Pertama; eksternalisasi. Pada tahap ini upacara molod menjadi arena pencurahan nilai-nilai budaya dan keislaman yang diserap dari doktrin Islam dan budaya untuk mendapatkan berkah dan syafa‘at nabi Muhammad Saw. Kedua; objektivasi. Upacara molod menjadi kegiatan yang sakral, dicurahkan menjadi tata kelakuan dan tata nilai guna harmonisasi hubungan dengan sesama, alam dan Tuhan. Ketiga; internaliasasi. Masyarakat menyerap nilai-nilai budaya dan agama yang diadaptasi melalui sosialisasi dan habitualisasi upacara molod, mulai dari lokus budaya, masjid dan lembaga pendidikan secara terus-menerus dan turun-temuran. Selanjutnya, ada tiga tipologi masyarakat dalam mengkonstruksi molod. yaitu, terlibat penuh, terlibat tapi tidak penuh dan tidak terlibat sama sekali. Secara umum masyarakat Bawean menerima dan terlibat secara penuh dalam upacara molod. Penerimaan tersebut tidak lepas dari legitimasi elit lokal. Jadi, molod tidak hanya bermakna ritual agama, tapi juga ruang sosial dan budaya yang menjadi identitas Islam Bawean. Sebab dalam upacara molod terkandung nilai-nilai, prinsip dan watak masyarakat Bawean yang tercermin dalam rangkaian upacara dan angka’an mol od.
| Item Type: | Thesis (Doctoral) | ||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Creators: |
|
||||||||||||
| Contributors: |
|
||||||||||||
| Uncontrolled Keywords: | Islam; Tradisi Lokal; Konstruksi Sosial; Upacara; Molod. | ||||||||||||
| Subjects: | Islam dan Humanisme | ||||||||||||
| Divisions: | Program Doktor > Studi Islam | ||||||||||||
| Depositing User: | Ainul Yakin | ||||||||||||
| Date Deposited: | 09 Oct 2026 23:22 | ||||||||||||
| Last Modified: | 09 Oct 2026 23:22 | ||||||||||||
| URI: | https://digilib.uinsa.ac.id/id/eprint/90742 |
