Subagiyo, Septia Sekar Mutiara (2026) Makna Ghulūl dalam Q.S. Ali-Imran ayat 161: aplikasi teori semiotika Roland Barthes. Undergraduate thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.
Septia Sekar Mutiara Subagiyo_E93219122.pdf
Download (2MB)
Septia Sekar Mutiara Subagiyo_E93219122_Full.pdf
Restricted to Repository staff only until 13 August 2029.
Download (2MB)
Abstract
Penelitian ini mengkaji makna ghulūl dalam Q.S. Ali-Imran [3]: 161 dengan menggunakan teori semiotika Roland Barthes. Ghulūl merupakan salah satu istilah Al-Qur'an yang lazim dipahami secara harfiah sebagai pengkhianatan terhadap harta rampasan perang (ghanīmah), namun pemaknaannya tidak berhenti pada makna kebahasaan semata sehingga memerlukan pembacaan yang lebih mendalam dan komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna denotasi, konotasi, dan mitos dari kata ghulūl melalui kerangka signifikasi dua tahap yang dikembangkan oleh Roland Barthes. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif deskriptif analitis. Sumber data primer diperoleh dari kitab-kitab tafsir klasik dan kontemporer, di antaranya Tafsir al-Misbah karya M. Quraish Shihab dan Jami' al-Bayan fi Ta'wil al-Qur'an karya al-Thabari, serta karya-karya Roland Barthes seperti Elemen-Elemen Semiologi dan Mythologies. Data dianalisis melalui tiga tahap signifikasi Barthes, yaitu denotasi, konotasi, dan mitos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara denotatif, ghulūl bermakna pengkhianatan terhadap amanah harta rampasan perang yang digambarkan melalui rantai sintagmatik berupa seseorang yang memanggul sendiri barang hasil khianatnya di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Pada tataran konotasi, makna ghulūl meluas menjadi simbol ketidakjujuran, pengkhianatan terhadap kepercayaan, dan keserakahan yang tidak lagi terbatas pada konteks ghanīmah, melainkan mencakup segala bentuk penyalahgunaan amanah, termasuk korupsi dan penyalahgunaan wewenang dalam kehidupan kontemporer. Sementara pada tataran mitos, ayat ini membangun pesan ideologis bahwa setiap kejahatan yang tersembunyi pasti akan dibongkar di hadapan keadilan Allah yang mutlak, sekaligus menegaskan oposisi biner antara ghulūl dan kesucian ('ishmah) kenabian. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ghulūl bukan sekadar istilah hukum fikih yang sempit, melainkan konsep moral teologis yang terus relevan sebagai peringatan universal terhadap pengkhianatan amanah, baik pada masa Nabi Muhammad saw. maupun dalam konteks kehidupan masyarakat modern.
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) | ||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Creators: |
|
||||||||
| Contributors: |
|
||||||||
| Uncontrolled Keywords: | Ghulūl; semiotika; Roland Barthes; denotasi; konotasi; mitos; Q.S. Ali-Imran 161 | ||||||||
| Subjects: | Korupsi Linguistik |
||||||||
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin dan Filsafat > Ilmu Alquran dan Tafsir | ||||||||
| Depositing User: | Septia Sekar Mutiara Subagiyo | ||||||||
| Date Deposited: | 13 Aug 2026 03:16 | ||||||||
| Last Modified: | 13 Aug 2026 03:16 | ||||||||
| URI: | https://digilib.uinsa.ac.id/id/eprint/95489 |
