Penyelesaian perkara tindak pidana korupsi anggota TNI oleh pengadilan militer

This item is published by Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Ashivatuszahra, Aviara Jeka (2026) Penyelesaian perkara tindak pidana korupsi anggota TNI oleh pengadilan militer. Undergraduate thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

[img] Text
Aviara Jeka Ashivatuszahra_05010322006 OK.pdf

Download (3MB)
[img] Text
Aviara Jeka Ashivatuszahra_05010322006 Full.pdf
Restricted to Repository staff only until 7 April 2029.

Download (3MB)

Abstract

Tindak pidana korupsi merupakan kejahatan luar biasa yang penanganannya memerlukan mekanisme peradilan khusus, transparan, dan akuntabel. Namun dalam praktik, penyelesaian perkara tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) aktif masih menghadapi persoalan kewenangan absolut antara Pengadilan Tindak Pidana Korupsi dan Peradilan Militer. Dualisme pengaturan tersebut menimbulkan ketidakpastian hukum dan berpotensi menimbulkan perbedaan perlakuan hukum berdasarkan status pelaku. Permasalahan penelitian ini dirumuskan pada dua hal, yaitu bagaimana implementasi penyelesaian perkara tindak pidana korupsi oleh anggota TNI aktif pada Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, serta bagaimana upaya harmonisasi regulasi kewenangan absolut peradilan ditinjau dari prinsip persamaan di hadapan hukum. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undanganan, pendekatan kasus, dan pendekatan konseptual. Bahan hukum primer yang digunakan meliputi Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer, Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Undang-Undang Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, serta Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 87/PUU-XXI/2023. Bahan hukum sekunder diperoleh dari literatur hukum, jurnal ilmiah, dan dokumen pendukung yang relevan. Seluruh bahan hukum dianalisis secara kualitatif dengan penalaran deduktif. Hasil penelitian menunjukkan 1) secara implementasi pertentangan normatif antara Pasal 5 Undang-Undang Nomor 46 Tahun 2009 dengan Pasal 9 ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1997 perkara korupsi yang melibatkan anggota TNI aktif masih dialihkan ke peradilan militer dengan alasan status subjek hukum, berdasarkan asas lex spesialis derogat legi generali dan kaidah takhsis al-‘ām seluruh perkara korupsi seharusnya menjadi kewenangan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. 2) Upaya harmonisasi dalam perspektif prinsip persamaan dihadapan hukum (Equality before the law) dan Al-Musāwāh berupa penegasan pembatasan yurisdiksi dan penyelarasan antar Undang-Undang.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan agar pembentuk Undang-Undang melakukan harmonisasi dan penataan ulang regulasi kewenangan peradilan dengan menegaskan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi sebagai lembaga yang berwenang mengadili seluruh tindak pidana korupsi tanpa pengecualian berdasarkan status pelaku. Selain itu, aparat penegak hukum perlu membangun keseragaman penafsiran dan penerapan hukum agar penegakan hukum tindak pidana korupsi dapat berjalan secara adil, konsisten, dan memberikan kepastian hukum.

Statistic

Downloads from over the past year. Other digital versions may also be available to download e.g. from the publisher's website.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Creators:
CreatorsEmailNIM
Ashivatuszahra, Aviara Jekaaviarajeka57@gmail.com05010322006
Contributors:
ContributionNameEmailNIDN
Thesis advisorCandra, Marlimcand23@gmail.com/mcand23@uinsby.ac.id2014048502
Subjects: Hukum > Hukum Pidana
Hukum
Hukum > Hukum Pidana Islam
Korupsi
Keywords: Pengadilan militer; Militer; Korupsi; Aparat negara
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Hukum Pidana Islam
Depositing User: Aviara Jeka Ashivatuszahra
Date Deposited: 07 Apr 2026 07:25
Last Modified: 07 Apr 2026 07:25
URI: http://digilib.uinsa.ac.id/id/eprint/89281

Actions (login required)

View Item View Item